Sebanyak 2540 item atau buku ditemukan

Menyongsong Imam Mahdi sang penakluk Dajjal

Spiritualitas Tanpa Tuhan

Bisakah kita hidup tanpa agama? Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan? Atau, adakah sesuatu yang disebut “spiritualitas ateis”? Dalam buku ini, filsuf terkemuka Prancis André Comte-Sponville menjawab pertanyaan itu dengan melakukan eksplorasi filosofis perihal ateisme. Menurut Comte-Sponville, kita bisa saja memisahkan konsep spiritualitas dari agama dan Tuhan, dan pandangan ini tentu tidak mereduksi hakikat kehidupan spiritual yang sebenarnya. Kendati demikian, kita tidak perlu menolak nilai-nilai dan tradisi-tradisi kuno—semisal Islam, Kristen, dan Yahudi—yang jadi bagian dari warisan kita saat ini. Tetapi, kita mesti memikir ulang relasi kita dengan nilai-nilai tersebut serta bertanya apakah nilai-nilai itu signifikan bagi kebutuhan manusia untuk berhubungan antara satu dengan lainnya dan alam semesta. Untuk mendukung pandangan tersebut, Comte-Sponville menyajikan argumen yang tepat dan masuk akal, dengan merujuk pada tradisi Barat dan Timur serta pengalaman personalnya sebagai sosok yang tumbuh di dalam gereja Katolik, yang menjadi contoh terang ihwal seseorang yang dapat meraih spiritualitas meski ia kehilangan keimanan pada Tuhan. Melalui tulisan yang singkat, jelas, dan acap kali penuh humor ini, sang filsuf menyuguhkan risalah yang meyakinkan mengenai bentuk baru kehidupan spiritual.

Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan? Atau, adakah sesuatu yang disebut “spiritualitas ateis”? Dalam buku ini, filsuf terkemuka Prancis André Comte-Sponville menjawab pertanyaan itu dengan melakukan eksplorasi filosofis perihal ateisme.

Tan Malaka, Gerakan kiri, dan revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946

History of revolution in Indonesia, 1945-1949 and involvement of Tan Malaka in fighting against the Dutch.

Perwakilan golongan Kristen yang kuat, pengangkatan wakil Islam yang hanya
seorang, dan tidak adanya wakil golongan pemuda tidak diterima dengan baik.
Sjahrir membuka ruang gerak bagi dirinya yang ... 378 Di luar KNIP Yamin dan
Abikoesno menulis uraian mendasar yang panjang, di bawah judul yang sama, '
Menteri Negara jang bertanggoeng djawab kepada rakjat', terbit dalam harian
Merdeka 28-11 dan 8-12-1945. Pada artikel Yamin mengomentari kementerian ...

Anak-anak Revolusi Buku 2

"""Andai ilmiah itu agung, tentu kitab-kitab suci tak tertulis berupa dongeng. Budiman Sudjatmiko mengaku tak punya imajinasi agung seorang pendongeng. Namun membaca karyanya, saya seperti digugah oleh daya dongeng. Ke tanah harapan itu saya seperti tak akan jauh lagi bersama “rangkaian panjang kereta yang melaju dengan kecepatan penuh"""". Anak-anak Revolusi adalah musik romantis Simon & Garfunkel yang bersuara dalam rupa buku. – Sujiwo Tejo Presiden #Jancukers Naskah ini ditulis oleh seorang muda berbakat dalam bentuk memoar dengan visi politiknya sendiri. Patut dibaca oleh kalangan luas dalam proses saling memberi dan menerima. Memperkaya wawasan ke-Indonesia-an kita. – Ahmad Sya i Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah “Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa,” kata penyair Cekoslowakia, Milan Kundera. Ketika deretan kejahatan kemanusiaan dan kekerasan oleh negara terhapus dari memori kolektif publik, tak aneh bila mereka yang tangannya berlumuran darah bisa berganti peran menjadi pahlawan. Buku ini mengajak kita melawan lupa, sekaligus mengon firmasi kabar yang saya dengar bahwa sebagai aktivis, penulis buku ini adalah seorang yang romantis. – Najwa Shihab Host Program “Mata Najwa” & Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV Politik adalah bibit sejarah. Ia tumbuh karena tindakan. Politik, sejarah, tindakan. Itulah isi buku ini. Selamat, Bud! – Rocky Gerung Dosen Filsafat Universitas Indonesia"""

PDI Perjuangan, di bawah pimpinan Megawati, menjadi pemenang. Selanjutnya
disusul Golkar, di bawah kendali Presiden Habibie. Sisa suara selebihnya
tersebar ke lima partai Islam. PRD sendiri gagal meraih kursi di DPR dan hanya
memenangi sejumlah kursi di beberapa DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah). PDI Perjuangan dianggap sebagai representasi gerakan proreformasi
yang paling progresif. Dari partai-partai C besar pemenang pemilu, ia yang
berada pada ...

Paradoks revolusi Indonesia

Biography of Soekarno, the first president of the Republic of Indonesia.

1915: Masuk Hoogere Burger School (HBS), sekolah menengah Belanda, dan
ikut di rumah Tjokroaminoto, Ketua Sarekat Islam. Di situ, dia berkenalan dengan
tokoh-tokoh senior pergerakan dan memulai proses magang politik. Kenyataan
bahwa ia berhasil menyelesaikan HBS dalam lima tahun, dengan semua
kegiatan sampingannya, membuktikan ia murid yang cerdas. 21 Januari 1921:
Artikel Sukarno yang pertama terbit di halaman depan koran Oetoesan Hindia
milik Sarekat ...

Kronik revolusi Indonesia: 1948

Chronology of important events in the five years of Indonesian revolution, 1945-1949.

... dan mereka mengeluarkan surat kabar dalam bahasa Arab. Berita-berita
dalam surat kabar Siria dan Mesir mereka kutip dan mereka salin ke dalam
bahasa Spanyol. Selain itu wakil Republik pun mengeluarkan surat kabar
berbahasa Inggris dan Perancis. Mengenai orang Indonesia di negara-negara
Arab dikatakan, mereka kebanyakan mempelajari agama Islam di Universitas Al
Azhar. (TM2 * Menjawab pertanyaan wartawan Semangat Merdeka, anggota
rombongan Presiden, ...

Setelah Revolusi tak Ada Lagi

History and criticism of Indonesian literature.

Pluralisme ini tak hanya terbatas pada interpretasi manusia tentang agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, tetapi bahkan juga tentang makna islam itu
sendiri. "Islam" tulis Nurcholish, "artinya pasrah sepenuhnya (kepada Allah),
sikap inti ajaran agama yang benar di sisi Allah. Karena itu semua agama yang
benar disebut islam. Dalam pandangan ini, suatu agama, termasuk agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad, tidak unik. Ia tak berdiri sendiri dan terpisah.
Bahkan ia ...

Kronik Revolusi Indonesia jilid V

Buku ini merupakan jilid kelima dari seri kronik tentang Revolusi Indonesia, 1945–49. Seri ini dirancang untuk meliput semua peristiwa yang menjadi berita pada lima tahun pertama Indonesia merdeka. Itu berarti tidak hanya mencakup peristiwa politik dan militer, tetapi juga ekonomi, hukum, pendidikan, sains dan teknologi, agama, dan lain-lain yang biasa diistilahkan dengan bidang cultural universals. Seri kronik ini terdiri dari lima jilid, meliputi rentang waktu lima tahun, masing-masing dengan ketebalan paling sedikit 500 halaman. Besarnya jumlah halaman sedikitnya memperlihatkan bahwa kronik ini lebih lengkap dan lebih melingkupi daripada buku-buku kronik tentang Revolusi Indonesia lainnya. Oleh karena itu, kronik ini diharapkan dapat menjadi acuan yang terpercaya bagi mereka yang membutuhkan. Buku ini layak dimiliki oleh para sejarawan, ilmuwan sosial, budayawan, pustakawan, mahasiswa, dan peminat sejarah pada umumnya.

Historis pelaku Serangan Umum tersebut ialah Tentara Pelajar (TP) di bawah
Letkol Slamet Rijadi selaku Komandan Wehrkreise100/Komandan Brigade V Div
. II, bersama kesatuan-kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dibawah
Mayor Achmadi selaku Komandan Sub-Wehrkreise Arjuna 106/Komandan Det. II
TP Brig. ... Islam atas nama Indonesia (Star umat Weekly, Islam (NII) bangsa di
30 MadinahOktober Indo1949:21) * b lis Di Taman Ksatria Kotaraja (sekarang
Banda ...

Paket Panca Azimat Revolusi

“Kita merayakan 20 tahun Agustus agung ini di waktu kita sudah mempunyai Panca Azimat. Panca Azimat adalah pengejawantahan daripada seluruh jiwa nasional kita, konsepsi nasional kita, yang terbentuk di sepanjang sejarah 40 tahun lamanya.” — Sukarno, 17 Agustus 1965 Pada pidato kepresidenan 17 Agustus 1965 itu Sukarno merumuskan apa yang ia sebut panca azimat atau rukun lima kemerdekaan Indonesia—tuturan yang mungkin tak banyak diingat atau dicermati terutama setelah hampir lima puluh tahun berselang. Panca azimat merupakan ide-ide yang digali dan diformulakan Bung Karno dari kehidupan bersama bangsa Indonesia baik pada masa prakemerdekaan maupun pascakemerdekaan. Ide-ide itu tersebar dalam lima pokok tulisan dan ujaran yang merentang dari 1926 hingga 1965. Pertama ialah artikel “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yang terbit pada Suluh Indonesia tahun 1926. Yang kedua, pidato “Lahirnya Pancasila” dalam sidang BPUPK 1 Juni 1945. Ketiga adalah “Penemuan Kembali Revolusi Kita” tahun 1959. Keempat, “Tahun Vivere Pericoloso/Trisakti” 1964 dan yang terakhir adalah “Capailah Bintang-bintang di Langit atau Tahun Berdikari” 1965. Di samping menghimpun lima amulet tersebut, buku Panca Azimat Revolusi ini juga memuat tujuh tulisan Sukarno yang dianggap penting. Semoga, dalam dua jilid yang hanya setebal 1.080 halaman ini, siapa pun dapat menikmati kembali spektrum pemikiran salah satu pendiri dan putra terbaik republik ini.

agar supaja mengerahkan sebanjak mungkin utusanutusan Islam ke dalam
badan perwakilan ini. Ibaratnja Badan Perwakilan Rakjat 100 orang anggotanja,
marilah kita bekerdja, bekerdja sekeraskerasnja, agar supaja 60, 70,80, 90
utusan jang duduk dalam perwakilan rakjat ini orang Islam, pemukapemuka
Islam. Dengan sendirinja hukumhukum jang keluar dan Badan Perwakilan
Rakjat itu, hukum Islam pula. Malahan saja jakin, djikalau hal jang demikian itu
njata terjadi, barulah ...

Rihlah Ibnu Bathuthah

Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Bathuthtah adalah seorang pengembara (traveler), petualang (adventurer), dan pengamat (viewer) yang membuat catatan tentang negeri-negeri yang ia kunjungi dalam pengembaraannya. Catatan perjalanan yang dikenal dengan buku "Rihlah Ibnu Bathuthah" ini ditulis setelah dirinya mengunjungi berbagai belahan dunia, kemudian mengamati kebudayaan, adat istiadat, dan perilaku masyarakat di negeri-negeri yang ia kunjungi, terutama wilayah yang dipimpin oleh kesultanan Islam. Banyak kisah menarik yang diceritakan dalam buku catatan perjalanan Ibnu Bathuthah ini, terutama cerita-cerita tentang para sultan, para syaikh, sejarah sebuah negeri, falsafah kehidupan masyarakat setempat dan lain sebagainya yang ia tulis berdasarkan pengamatan langsung dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara, Ibnu Bathuthah menceritakan perjalanannya secara apik dan mengesankan. Ia misalnya, menceritakan kunjungannya bertemu dengan Sultan Jawa (Sultan Nusantara) dari Kerajaan Samudera Pasai, Sultan Malik Azh-Zhahir. Ibnu Bathuthah sendiri menyebut hasil karyanya ini sebagai persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dan perjalanan yang menakjubkan, yang ia tuangkan dalam sebuah catatan perjalanan. Sebagai sebuah catatan perjalanan, membaca buku ini seperti mendengarkan seorang pemandu wisata (guide tour) bercerita tentang negeri-negeri yang menakjubkan dari segala isinya. Pembaca seolah diajak berkelana menyusuri negeri-negeri yang ia kunjungi, kemudian memetik hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian dalam perjalanan. Ibnu bathuthah berhasil merangkai sebuah catatan perjalanan sebagai karya sejarah bermutu tinggi, yang bisa dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah sebuah bangsa dan peradaban manusia. Buku ini, sayang Anda lewatkan. -Pustaka Al-Kautsar-

Ibnu Bathuthah menyebutkan, dia masuk Damaskus pada 9 Ramadhan 726 H.
Padahal sejak bulan Sya'ban sampai Dzulqa'dah 726 H itu, Ibnu Taimiyah
dipenjara dibenteng (lihat Syarah Qashidah Ibnul Qayyim,juz 1, hlm.497). Ibnu
Abdul ...