Sebanyak 2540 item atau buku ditemukan

Perkawinan adat Wologoro suku Tengger

Marriage customs and ritual of Tengger ethnic group, East Java Province, Indonesia.

Marriage customs and ritual of Tengger ethnic group, East Java Province, Indonesia.

Ilmu Sosial di Indonesia

Perkembangan dan Tantangan

Kita berefleksi untuk mendapatkan gambaran masa depan yang lebih baik. Sejak reformasi kita belum melihat kembali wajah kita, sudah banyak buku yang menunjukan wajah sedih, marah, terluka, juga wajah yang menantang masa depan. Akan tetapi sisi akademis terlewatkan, karena kita jarang mempertanyakan diri kita dalam keilmuan dan kaitannya dengan masa depan kita. Padahal sudah banyak lembaga pendidikan dan penelitian, negeri dan swasta, juga pendidikan berkembang baik, bahkan skema-skema beasiswa dalam dan luar negeri pun sudah kembali terbuka. Di sisi lain, kita masih melihat kemiskinan, kesenjangan antarjender, tidak berkembangnya kota dan desa, nilai rupiah cenderung turun, dan masalah lingkungan yang tiada habisnya. Apakah ilmu social sudah ditinggalkan? Apakah para ilmuwan social tersingkirkan? Bagaimana dengan generasi ilmuan social yang muda, yang berkiprah dari wilayah yang jauh dari pusat kota? Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan merupakan kumpulan artikel yang dikemas dalam konteks refleksi ilmu social kemudian berupaya memotretnya. Kumpulan tulisan ini adalah bukti kepedulian ilmuwan social atas negeri dan keilmuannya. Mereka berpikir dan berimajinasi dengan tujuan Nusantara Persada, menjadi Indonesia yang lebih baik.

Karya-karyanya menggarap isu hubungan agama dan negara, agama di dalam
komunitas, perkembangan Islam di Indonesia, dan Pancasila. M. Zainal Anwar
bergabung di IRE sejak tahun 2004 sebagai reporter di buletin Flamma dan saat
ini mengemban amanah sebagai manajer program Governance and Policy
Reform. Dia melanjutkan kuliah S-1 di Jurusan Perbandingan Madzhab dan
Hukum-Fakultas Syariah (tamat 2005) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Kalijaga ...

Tentang Ilmu Pertahanan

Buku Tentang Ilmu Pertahanan menganalisis isu penting tentang pertahanan: manajemen pertahanan, kebijakan pertahanan, kerja sama pertahanan, diplomasi pertahanan, pertahanan dan keamanan dalam negeri, ekonomi pertahanan, strategi pertahanan, geografi pertahanan, intelijen pertahanan, nilai-nilai pertahanan, geopolitik dan sistem pertahanan. Yang menarik ialah ketika penulis mengulas ilmu militer, ilmu dan seni perang, serta perubahan dari institusi 'perang' menjadi 'pertahanan'. Perang dan pertahanan mencakup berbagai disiplin ilmu. Untuk itulah dalam "Kebijakan Pertahanan" yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan RI, terdapat istilah 'militer dan nir-militer' atau 'militer-nonmiliter'. Hal tersebut didasarkan adanya perubahan perkembangan lingkungan strategis, perubahan ancaman global, teknologi pernang, dan yang tidak kalah penringnya adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertahanan dan juga pengamat militer. Dengan demikian, perang pertahanan-militer–bukan hanya urusan atau kepentingan militer semata, tetapi juga merupakan kepentingan "masyarkat sipil–nir militer"(civil society) untuk mengetahui dan memahaminya–sesuai dengan perkembangan demokrasi atau demokratisasi pada saat ini, yaitu militer sebagai alata negara. oleh karena itu, militer harus tunduk kepada politik negara, karena proses pengambilan keputusan politik negara berada di tangan sipil (pemerintahan dan legislatif)

Dilihat dari kepentingan, dapat dibedakan antara: 1) Kerja sama atas dasar
kepentingan politik; 2) Kerja sama atas dasar kepentingan sosial-budaya; 3)
Kerja sama atas dasar kepentingan pertahanan. Selain kerja sama seperti di
atas, juga ...

Keadilan Ilahi

Asas Pandangan-Dunia Islam

Keadilan, menurut Al-Quran, merupakan pendamping tauhid, rukun ma’ad (hari akhirat), tujuan disyariatkannya nubuwwah (kenabian) dan filsafat kepemimpinan, serta tolok ukur kesempurnaan seseorang dan standar kesejahteraan masyarakat. Masih merujuk pada penjelasan Al-Quran, Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa keadilan merupakan sejenis “pandangan-dunia” (world view). Dalam buku ini, Muthahhari melakukan eksplorasi atas tema penting dalam khazanah keilmuan-keislaman tersebut, sekaligus mendemonstrasikan wawasan luasnya untuk membuktikan pernyataanya itu. Dalam mengkaji keadilan ini, dia menggunakan baik pendekatan naqliah (pendekatan berdasarkan nash-nash wahyu dan hadis) maupun aqliah (pendekatan filosofis dan teologis berdasarkan rasio). Sebelum menginjak pada inti kajiannya, pada bagian Pendahuluan Muthahhari menjelaskan secara panjang lebar perdebatan menarik berkaitan dengan soal ini—suatu perdebatan panjang yang akhirnya menghasilkan dua mazhab teologis terkenal dalam pemikiran Islam, yaitu Asy’ariah dan Mu’tazilah. Kemudian, dia juga menjelaskan munculnya soal prinsip keadilan dalam dunia fiqih yang dicerminkan dengan pertentangan antara ahli qiyas dan ahli hadis. Setelah menjelaskan beberapa kekhasan pemikiran mazhab Syi‘ah dalam membahas tema keadilan, Muthahhari pun menunjukkan betapa tema keadilan ini merupakan rahasia sumber sejati dalam mendinamisasi pemikiran di dunia Islam. [Mizan, Pustaka, Referensi, Agama]

Masih merujuk pada penjelasan Al-Quran, Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa keadilan merupakan sejenis “pandangan-dunia” (world view).

Keadilan dalam kemajemukan

Festschrift in honor of Radius Prawiro, b. 1928, economist, former Coordinating Minister of Economics, Finance, Industry, and Development Supervision of Indonesia.

Festschrift in honor of Radius Prawiro, b. 1928, economist, former Coordinating Minister of Economics, Finance, Industry, and Development Supervision of Indonesia.

Keadilan Jender

Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah

Mengkaji feminisme dalam perspektif Islam sangat menarik. Dengan jelas dan rinci, penulis menggambarkan tahapan dalam perkembangan gerakan feminisme di Eropa, Amerika, dilengkapi dengan kondisi di Dunia Arap Muslim. Free Hearty melukiskan bagaimana tokoh perempuan dalam ketiga karya sastra, berjuang dan berusaha keluar dari cengkraman budaya patriaki dan tradisi. Terkadang hambatan datang bukan hanya dari tokoh laki-laki tetapi justru dari perempuan lain, bahkan ibu sendiri. Yang menarik adalah kesimpulan kajian itu; dalam karya Saadawi dan Ghalem yang mengangkat pertentangan antara ideologi feminisme dan patriarki, pengarang malahan terjebak dalam sikap yang mensubordinasi perempuan di bawah kekuasaan laku-laki (feminis korban). Sebaliknya, karya Mahfoudz yang sebenarnya hanya ingin mengungkapkan masalah keadilan dan kemanusiaan, justru sangat kental mengungkap potensi perempuan yang tegas, tegar dan rasional dalam menghadapi hidup (feminisme kekuasaan). P​rof. Dr. Ida Sundari Husen

Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah Free Hearty ... Kondisi ini
pula yang menggiring timbulnya sikap misoginis.4 Dalam situasi dan kondisi
seperti itulah Islam turun. Jadi, Al ... jawab terhadap terjadinya drama kosmik,
yang menyebabkan nenek moyang manusia jatuh dari surga ke bumi dan
menyebabkan terjadinya dosa warisan (lihat “Kajian kritik terhadap ayat-ayat
Genderdalam Rekonstruksi Metodologis Wacana kesetaraan Gender dalam
Islam, 2002, hlm.

Ikatan silang budaya

seni serat Biranul Anas

Criticism on fiberworks of Biranul Anas, an Indonesian artist.

... sebab secara presentatif ragam hias Minangkabau, misalnya, amat berbeda
dengan ragam hias suku Dani atau suku Asmat di ... Kebanyakan corak ragam
hias Indonesia bertolak dari simbolisme spiritual tentang kekuatan semesta alam
, ...

Krisis Budaya?

Oasis Guru besar Fakultas Ilmu Budaya UI

Pertanyaannya, dalam berbicara tentang kehidupan (bersama), haruskah kita sekata? Benarkah Bahasa mempersatukan kita? Adakah budaya yang ragam mempersatukan kita atau –bisa-- sebaliknya? Buku ini, seperti berbagai buku lain yang merenungi gerak hidup manusia Indonesia, dengan sederhana dan salah tingkah mencoba memahami gaduh seru lucu haru yang ada dan mengatakan apa yang menyengkilit dan membuatnya amnesia. Jelas, Indonesia kaya raya. Namun, kita tak acuh bahkan tidak hendak mengenal apalagi mengakuinya. Masalah bahasa. Ketakmengertian budaya dan jati diri. Persoalan kesadaran bangsa. Kekayaan budaya, termasuk kearifan lokal yang menjadi slogan belaka. Wawasan kebangsaan? Dirasakan adanya bahaya partikularisme dan relativisme budaya. Kita bahkan tak hirau dengan kemungkinan proxy war. Apakah yang perkara? Siapakah kita sesungguhnya? Krisis identitas? Berulang kembali kita membicarakan tonggak budaya seperti bendera, NKRI, Sumpah Pemuda, Bineka Tunggal Ika, Pancasila, Bahasa Indonesia, yang kesemuanya ternyata kita lupakan karena terkecoh oleh sengat gemerlap gairah mengejar masa depan. Saya berharap kelima belas bab dalam buku ini dapat menunjukkan kepada pembaca apa yang menjadi soal, kompleksitas dan kemultidimensionalan perkara hidup dan budaya kita, apa yang perlu dipertengkarkan dan dipertimbangkan dalam upaya membangun bangsa dan memastikan hakikat dan martabatnya. Dengan kondisi yang ada, globalisasi, dan teknologi canggih yang membuat mulut ternganga dan kehidupan pun terbawa, kemajuan pesat yang tak mempertanyakan ketertinggalan apalagi kesiapan, dan pemerintahan yang gamang, buku ini bertanya: akan ke manakah kita sebagai bangsa yang ber-”budaya krisis” bergerak dan menuju? (Riris K. Toha Sarumpaet, Ketua DGB Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI)

Melalui teks yang disusun sebagai cerita, kita dapat mengetahui alam pikiran,
cita-cita, dan pedoman hidup para leluhur ... dalam bahasa Jawa Kuna, Arab,
Jawa, Sunda, Bali, Melayu, Minangkabau, Lampung, Bugis, Makasar, Wolio (
Buton), ...

Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di Indonesia

Sebuah Tantangan

Buku ini menjelaskan bahwa ‘nasionalisme Indonesia’ saat ini sedang dirunding masalah. Globalisasi dituduh sebagai penyebab dari luar karena mengakibatkan liberalisasi dan dominasi pasar bebas. Akan tetapi, tidak kurang pentingnya adalah faktor internal, khususnya desentralisasi/otonomi daerah yang salah sasaran, dan rusaknya tatanan sosial, hukum, dan politik bangsa akibat melemahnya integritas warga negara dan penyelenggara negara. Wujudnya muncul dalam wajah korupsi perilaku kolutif, dan konflik antaretnik yang seringkali pula mengatasnamakan agama. Kondisi ini mengindikasikan Indonesia sebagai negara-bangsa (nation-state) belum sepenuhnya terbangun. Ketahanan budaya Indonesia juga tengah menghadapi tantangan yang berat. Budaya-budaya daerah/lokal yang merupakan kesatuan dalam ikatan budaya nasional kian melemah sehingga dengan mudah diklaim oleh bangsa lain menjadi miliknya sendiri. Ironisnya, keadaan ini berlangsung tanpa pembelaan yang cukup dari negara. Melemahnya daya tahan budaya ditenggarai karena kegagalan kita sebagai bangsa menyikapi globalisasi secara cerdas sehingga mudah menerima dan menerapkan budaya asing yang beberapa aspeknya justru bertentangan dengan budaya bangsa kita sendiri. Nasionalisme yang kian memudar dan ketahanan budaya yang terus melemah berpotensi menggoyahkan bangunan ‘rumah Indonesia’ yang bersifat multietnik dan multikultural. Kontribusi dari buku ini adalah pada upaya mencari solusi dalam menjawab dua problem kontemporer tersebut melalui pendekatan politik, sosiologis, dan budaya.

Being a Javanese, a Sundanese, a Minangkabau, or whatever did not make any
difference, because all were natives. Thus the category of natives, which could
make sense only in terms of Dutch colonial domination, became the basis of new
 ...

Rona Budaya

Festschrift untuk Sapardi Djoko Damono

Rona Budaya adalah persembahan karya ilmiah untuk menghargai kepakaran Sapardi Djoko Damono. Para penyumbang buku ini menulis berdasarkan bidang keahlian masing-masing, yang secara langsung dan tidak langsung menunjukkan hasil rintisan Sapardi untuk meluaskan dimensi ilmu dan dialog lintas disiplin dari Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya. Buku ini memaparkan hasil upaya Sapardi untuk membangun ilmu sastra melalui mata kuliah dan berbagai jenis penelitian yang dirambahnya, dari sosiologi sastra, ssatra populer, sejarah sastra, kajian alih-wahana dan ekranisasi, dan sastra bandingan. Rona Budaya juga merujuk pengembangan kajian yang bersifat lintas dan inter disiplin, termasuk filsafat, sejarah, arkeologi, perpustakaan, linguistik, dan kajian dengan paradigma di luar bidang sosial humaniora untuk memperkaya ilmu sastra dan budaya. Kepedulian Sapardi dalam persoalan kebahasaan, pendidikan, dan kebudayaan telah bergaung dalam tulisan-tulisan dalam buku, yang ditulis oleh mantan mahasiswa dan kolega.

Nagari dalam sistem kultural Minangkabau adalah sistem pemerintahan yang
otonom, sejenis republik kecil, sedangkan pada masa Orde Baru ia dibagi-bagi
sehingga mengacaukan sistem sosio-kultural dan politik Minangkabau. Dalam ...