Sebanyak 235 item atau buku ditemukan

Politik Lingkungan

Pengelolaan Hutan Masa Orde Baru dan Reformasi

Hutan rimba tropika adalah rahmat Allah untuk Indonesia. Pelestariannya tergantung pada kebijakan pemerintah (Pusat maupun Daerah), sebagaimana telah dibuktikan oleh Dr. Herman Hidayat dalam buku ini. - Prof. Dr. Amri Marzali (Antropolog, Univesitas Indonesia).

INOUE Makoto, Ph.D (Guru Besar The University of Tokyo) Tiada jalan yang
mulia selain belajar terus. Sahabatku yang terpercaya Dr. Herman Hidayat, telah
meletakkan peribahasa Inggris tersebut dalam praktek. Dia adalah pekerja keras
 ...

Pengelolaan lingkungan sosial

SAMBUTAN DEPUTI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP BIDANG
SOSIAL EKONOMI LINGKUNGAN T^idak dipungkiri bahwa aspek sosial dalam
pengelolaan lingkungan, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya alam,
kurang mendapat perhatian. Begitu banyak persoalan sosial yang terkait dengan
pengelolaan lingkungan hidup dihadapi bangsa Indonesia akhir-akhir ini,
khususnya konflik atau friksi sosial yang berkaitan dengan benturan kepentingan
, kesenjangan ...

Pengawasan industri dalam pengendalian pencemaran lingkungan

Environmental control for industrial pollution in Indonesia.

Agaknya mbokNah dan Jojo juga akan ikut mudik, dik Ratih harus belajar
merawat Dion dari sekarang." "Ya, Kak. Untung ada kak Ruti, kalau nggak kan
mesti dititipkan ke Rumah Sakit Jiwa." "Dion itu baik kok Dik, tolong sampaikan
ini pada ...

Revolusi Ekonomi

... berpotensi menjauh. Yang terbaik, tampaknya adalah strategi dua arah:
mencoba memperoleh kader berpikiran putar haluan dan mencoba
mempengaruhi anggota secara langsung (misalnya dengan membagi selebaran
pada pertemuan ...

Revolusi politik kaum muda

On role and leadership of Indonesian youth.

Proses pembelajaran dan pengalaman berinteraksi dengan kehidupan politik
yang telah, sedang, dan akan dialami oleh ... tingkat pengetahuan, pengalaman
dan daya inovasi yang luar biasa sehingga sampai saat ini belum terkelola
secara ...

Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3

Maret 1947-Agustus 1948

Tan Malaka (1984-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia menggunakan nama samaran sesudah dua puluh tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda ia bekerja untuk Komintren (organisasi komunis revolusioner internasional) dan pasca-1927 memimpin Partai Politik Indonesia yang ilegal dan antikolonial. Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, tokoh Tan Malaka yang legendaris ini berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Republik Indonesia: Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Tetapi segara pula mereka tidak sejalan. Tan Malaka menghendaki sikap tak mau berdamai dengan Belanda yang ingin memulihkan kembali kekuasaan kolonialnya. Ia memilih jalan 'perjuangan' dan bukan jalan 'diplomasi'. Ia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang dalam beberapa bulan menjadi alternatif dahsyat terhadap pemerintah moderat. Dalam konfrontasi di Parlemen ia kalah dan beberapa minggu kemudian Tan Malaka dan sejumlah pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa proses sama sekali - dari Maret 1946 sampai September 1948. Ia juga dituduh terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946 yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai kudeta. Dalam periode yang dibicarakan dalam jilid ketiga ini Tan Malaka masih mendekam di penjara, namun demikian ia memiliki kesempatan untuk menulis. Sementara itu para pengikutnya sekali lagi terorganisir dalam Gerakan Revolusi Rakjat. Terdapat indikasi mungkin ia akan dibebaskan. Tan Malaka di dalam sel menulis autobiografi dalam tiga jilid Dari pendjara ke pendjara. Sebuah analisis mendalam menunjukkan bahwa autobiografi Tan Malaka dapat ditafsirkan dalam berbagai cara. Dalam jilid ketiga ini terdapat pula banyak perhatian terhadap proses pengadilan raksasa yang berlangsung dari Februari-Mei 1948. Dalam proses tersebut sejumlah besar politisi terkemuka diadili. Ini merupakan proses politik unik yang tidak pernah ada taranya di Indonesia

384 Nota 'Verbindingen tussen de “Dar-Ul-Islam”-beweging o.l.v. Kartosoewirjo
en de Tan Malaka-aanhang' [Hubungan antara gerakan “Dar-Ul-Islamdibawah
pimpinan Kartosoewirjo dan pengikut Tan Malaka], hlm. 26-27, Dalam Sectie
Inlichtingen Terr. TRC. Midden-Java, 'Rapport over het communisme', 10-9-1949,
hlm. 175-176, dalam NA, PG 974. 385 S.Tj.S. [Sudarjo Tjokrosisworo], 'Front
Nasional Demokrasi', Pacific, 5-4-1948, dan Tan Malaka, gerakan kiri, dan
Revolusi ...

Ilmu Sosial di Indonesia

Perkembangan dan Tantangan

Kita berefleksi untuk mendapatkan gambaran masa depan yang lebih baik. Sejak reformasi kita belum melihat kembali wajah kita, sudah banyak buku yang menunjukan wajah sedih, marah, terluka, juga wajah yang menantang masa depan. Akan tetapi sisi akademis terlewatkan, karena kita jarang mempertanyakan diri kita dalam keilmuan dan kaitannya dengan masa depan kita. Padahal sudah banyak lembaga pendidikan dan penelitian, negeri dan swasta, juga pendidikan berkembang baik, bahkan skema-skema beasiswa dalam dan luar negeri pun sudah kembali terbuka. Di sisi lain, kita masih melihat kemiskinan, kesenjangan antarjender, tidak berkembangnya kota dan desa, nilai rupiah cenderung turun, dan masalah lingkungan yang tiada habisnya. Apakah ilmu social sudah ditinggalkan? Apakah para ilmuwan social tersingkirkan? Bagaimana dengan generasi ilmuan social yang muda, yang berkiprah dari wilayah yang jauh dari pusat kota? Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan merupakan kumpulan artikel yang dikemas dalam konteks refleksi ilmu social kemudian berupaya memotretnya. Kumpulan tulisan ini adalah bukti kepedulian ilmuwan social atas negeri dan keilmuannya. Mereka berpikir dan berimajinasi dengan tujuan Nusantara Persada, menjadi Indonesia yang lebih baik.

Karya-karyanya menggarap isu hubungan agama dan negara, agama di dalam
komunitas, perkembangan Islam di Indonesia, dan Pancasila. M. Zainal Anwar
bergabung di IRE sejak tahun 2004 sebagai reporter di buletin Flamma dan saat
ini mengemban amanah sebagai manajer program Governance and Policy
Reform. Dia melanjutkan kuliah S-1 di Jurusan Perbandingan Madzhab dan
Hukum-Fakultas Syariah (tamat 2005) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Kalijaga ...

Tentang Ilmu Pertahanan

Buku Tentang Ilmu Pertahanan menganalisis isu penting tentang pertahanan: manajemen pertahanan, kebijakan pertahanan, kerja sama pertahanan, diplomasi pertahanan, pertahanan dan keamanan dalam negeri, ekonomi pertahanan, strategi pertahanan, geografi pertahanan, intelijen pertahanan, nilai-nilai pertahanan, geopolitik dan sistem pertahanan. Yang menarik ialah ketika penulis mengulas ilmu militer, ilmu dan seni perang, serta perubahan dari institusi 'perang' menjadi 'pertahanan'. Perang dan pertahanan mencakup berbagai disiplin ilmu. Untuk itulah dalam "Kebijakan Pertahanan" yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan RI, terdapat istilah 'militer dan nir-militer' atau 'militer-nonmiliter'. Hal tersebut didasarkan adanya perubahan perkembangan lingkungan strategis, perubahan ancaman global, teknologi pernang, dan yang tidak kalah penringnya adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertahanan dan juga pengamat militer. Dengan demikian, perang pertahanan-militer–bukan hanya urusan atau kepentingan militer semata, tetapi juga merupakan kepentingan "masyarkat sipil–nir militer"(civil society) untuk mengetahui dan memahaminya–sesuai dengan perkembangan demokrasi atau demokratisasi pada saat ini, yaitu militer sebagai alata negara. oleh karena itu, militer harus tunduk kepada politik negara, karena proses pengambilan keputusan politik negara berada di tangan sipil (pemerintahan dan legislatif)

Dilihat dari kepentingan, dapat dibedakan antara: 1) Kerja sama atas dasar
kepentingan politik; 2) Kerja sama atas dasar kepentingan sosial-budaya; 3)
Kerja sama atas dasar kepentingan pertahanan. Selain kerja sama seperti di
atas, juga ...

Keadilan Jender

Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah

Mengkaji feminisme dalam perspektif Islam sangat menarik. Dengan jelas dan rinci, penulis menggambarkan tahapan dalam perkembangan gerakan feminisme di Eropa, Amerika, dilengkapi dengan kondisi di Dunia Arap Muslim. Free Hearty melukiskan bagaimana tokoh perempuan dalam ketiga karya sastra, berjuang dan berusaha keluar dari cengkraman budaya patriaki dan tradisi. Terkadang hambatan datang bukan hanya dari tokoh laki-laki tetapi justru dari perempuan lain, bahkan ibu sendiri. Yang menarik adalah kesimpulan kajian itu; dalam karya Saadawi dan Ghalem yang mengangkat pertentangan antara ideologi feminisme dan patriarki, pengarang malahan terjebak dalam sikap yang mensubordinasi perempuan di bawah kekuasaan laku-laki (feminis korban). Sebaliknya, karya Mahfoudz yang sebenarnya hanya ingin mengungkapkan masalah keadilan dan kemanusiaan, justru sangat kental mengungkap potensi perempuan yang tegas, tegar dan rasional dalam menghadapi hidup (feminisme kekuasaan). P​rof. Dr. Ida Sundari Husen

Perspektif Feminis Muslim dalam Sastra Timur Tengah Free Hearty ... Kondisi ini
pula yang menggiring timbulnya sikap misoginis.4 Dalam situasi dan kondisi
seperti itulah Islam turun. Jadi, Al ... jawab terhadap terjadinya drama kosmik,
yang menyebabkan nenek moyang manusia jatuh dari surga ke bumi dan
menyebabkan terjadinya dosa warisan (lihat “Kajian kritik terhadap ayat-ayat
Genderdalam Rekonstruksi Metodologis Wacana kesetaraan Gender dalam
Islam, 2002, hlm.

Krisis Budaya?

Oasis Guru besar Fakultas Ilmu Budaya UI

Pertanyaannya, dalam berbicara tentang kehidupan (bersama), haruskah kita sekata? Benarkah Bahasa mempersatukan kita? Adakah budaya yang ragam mempersatukan kita atau –bisa-- sebaliknya? Buku ini, seperti berbagai buku lain yang merenungi gerak hidup manusia Indonesia, dengan sederhana dan salah tingkah mencoba memahami gaduh seru lucu haru yang ada dan mengatakan apa yang menyengkilit dan membuatnya amnesia. Jelas, Indonesia kaya raya. Namun, kita tak acuh bahkan tidak hendak mengenal apalagi mengakuinya. Masalah bahasa. Ketakmengertian budaya dan jati diri. Persoalan kesadaran bangsa. Kekayaan budaya, termasuk kearifan lokal yang menjadi slogan belaka. Wawasan kebangsaan? Dirasakan adanya bahaya partikularisme dan relativisme budaya. Kita bahkan tak hirau dengan kemungkinan proxy war. Apakah yang perkara? Siapakah kita sesungguhnya? Krisis identitas? Berulang kembali kita membicarakan tonggak budaya seperti bendera, NKRI, Sumpah Pemuda, Bineka Tunggal Ika, Pancasila, Bahasa Indonesia, yang kesemuanya ternyata kita lupakan karena terkecoh oleh sengat gemerlap gairah mengejar masa depan. Saya berharap kelima belas bab dalam buku ini dapat menunjukkan kepada pembaca apa yang menjadi soal, kompleksitas dan kemultidimensionalan perkara hidup dan budaya kita, apa yang perlu dipertengkarkan dan dipertimbangkan dalam upaya membangun bangsa dan memastikan hakikat dan martabatnya. Dengan kondisi yang ada, globalisasi, dan teknologi canggih yang membuat mulut ternganga dan kehidupan pun terbawa, kemajuan pesat yang tak mempertanyakan ketertinggalan apalagi kesiapan, dan pemerintahan yang gamang, buku ini bertanya: akan ke manakah kita sebagai bangsa yang ber-”budaya krisis” bergerak dan menuju? (Riris K. Toha Sarumpaet, Ketua DGB Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI)

Melalui teks yang disusun sebagai cerita, kita dapat mengetahui alam pikiran,
cita-cita, dan pedoman hidup para leluhur ... dalam bahasa Jawa Kuna, Arab,
Jawa, Sunda, Bali, Melayu, Minangkabau, Lampung, Bugis, Makasar, Wolio (
Buton), ...