Sebanyak 380 item atau buku ditemukan

Etika Profesi Insinyur: Membangun Sikap Profesionalisme Sarjana Teknik

untuk memenuhi kebutuhan sebagai buku ajar, maka dalam penyusunannya buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas tentang konsep dan teori etika yaitu: Bab 1 tentang manusia dan alam semesta, Bab 2 tentang filsafat dan etika, Bab 3 tentang etika keilmuan, Bab 4 tentang etika dalam dunia teknik dan Bab 5 tentang profesi dan profesionalisme. Adapun bagian kedua membahas tentang etika profesi insinyur, yang terdiri: Bab 6 tentang kode etik profesi, Bab 7 tentang kepentingan profesional dan publik, Bab 8 tentang hak dan kewajiban insinyur, Bab 9 tentang kompetensi dan integritas profesi insinyur dan Bab 10 tentang kode etik profesi insinyur Indonesia. Akan tetapi, walaupun sebagai buku ajar untuk mahasiswa pada Jurusan Teknik Sipil, buku ini juga tetap dapat digunakan sebagai referensi oleh mahasiswa semua jurusan, serta masyarakat pada umumnya dalam menambah pengetahuan khususnya terkait dengan etika profesi. Sedikitnya ada tiga sasaran yang ingin dicapai dalam penyusunan buku ini, yaitu: (1) membantu mahasiswa untuk memahami bahwa setiap pilihan moral membawa reaksi atau akibat bagi orang lain; (2) membantu mahasiswa untuk menilai dan menempatkan konsep-konsep seperti keadilan, martabat, kebebasan, kebajikan, kebenaran, kebaikan, dan prinsip etis lainnya; dan (3) menggugah kesadaran mahasiswa untuk tetap mengutamakan kejujuran, keahlian, dan keluhuran budi agar mereka dapat mengaplikasikan dalam hubungan antara manager, rekayasawan, pekerja/buruh, masyarakat, profesi dan pemerintah.

... yang menuntut pengemban profesi tersebut untuk terus memperbaharui
keterampilannya sesuai perkembangan ilmu ... Keanggotaan dalam profesi
memerlukan pendidikan formal yang tinggi, bukan hanya pelatihan praktis atau
belajar ...

Meneladani Sikap & Perilaku Nabi Muhammad SAW

Bagi setiap muslim, cinta kepada Allah (mahabbatullah) adalah suatu hal yang mutlak. Demikian juga halnya kecintaan kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW. Kecintaan kepada Allah dan Rasulullah SAW harus lebih tinggi daripada kecintaan terhadap yang lainnya, termasuk terhadap keluarga dan diri sendiri. Hal itu ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya, "Tiga perkara, apabila ketiga perkara itu ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai oleh dirinya dan tidak ada selain dari keduanya yang paling dicintai, dan tidaklah ia mencintai seseorang kecuali cinta karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api." (Shahih Al-Bukhari no 16, 21, 6401 dan 6941 dan Shahih Muslim no 67, dan 68, HR. Tirmidzi no 2624, dan HR, Nasa'i no 4991 dan 4992). Seperti dalam sebuah peribahasa, Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, agar kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya itu dapat terlaksana, maka setiap muslim haruslah mengenal Allah dan Rasul-Nya. Mencintai Allah dilakukan dengan cara meneladani apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW.

Bagi setiap muslim, cinta kepada Allah (mahabbatullah) adalah suatu hal yang mutlak.

Sikap dan pemikiran kritis Pdt. Natan Setiabudi Ph.D, Ketua Umum Badan Kerja Sama Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Gereja (BKS-GLG) dalam pergumulan mengatasi persoalan bangsa Indonesia di era reformasi

tinjauan dari sudut sosiologikal-teologikal etis

Author's account on theological and social aspects of political reform in Indonesia; collected articles from Christian viewpoints.

MEREPOSISI AGAMA: Dari KOMODITAS POLITIK menjadi SUMBER MORAL
BERBANGSA DAN BERNEGARA Selama ini dalam kehidupan bernegara,
berbangsa, dan bermasyarakat di Indonesia, agama lebih diperlakukan sebagai
soal politik - ungkapan populernya politisasi agama - agama dipandang sebagai
salah satu hal di antara banyak hal lain; agama bukan dasar dari semua hal
yang lain. Misalnya suatu fakta yang tidak sehat adalah hanya RUU-RUU yang
dianggap ...