Sebanyak 2079 item atau buku ditemukan

Rihlah Ibnu Bathuthah

Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Bathuthtah adalah seorang pengembara (traveler), petualang (adventurer), dan pengamat (viewer) yang membuat catatan tentang negeri-negeri yang ia kunjungi dalam pengembaraannya. Catatan perjalanan yang dikenal dengan buku "Rihlah Ibnu Bathuthah" ini ditulis setelah dirinya mengunjungi berbagai belahan dunia, kemudian mengamati kebudayaan, adat istiadat, dan perilaku masyarakat di negeri-negeri yang ia kunjungi, terutama wilayah yang dipimpin oleh kesultanan Islam. Banyak kisah menarik yang diceritakan dalam buku catatan perjalanan Ibnu Bathuthah ini, terutama cerita-cerita tentang para sultan, para syaikh, sejarah sebuah negeri, falsafah kehidupan masyarakat setempat dan lain sebagainya yang ia tulis berdasarkan pengamatan langsung dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara, Ibnu Bathuthah menceritakan perjalanannya secara apik dan mengesankan. Ia misalnya, menceritakan kunjungannya bertemu dengan Sultan Jawa (Sultan Nusantara) dari Kerajaan Samudera Pasai, Sultan Malik Azh-Zhahir. Ibnu Bathuthah sendiri menyebut hasil karyanya ini sebagai persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dan perjalanan yang menakjubkan, yang ia tuangkan dalam sebuah catatan perjalanan. Sebagai sebuah catatan perjalanan, membaca buku ini seperti mendengarkan seorang pemandu wisata (guide tour) bercerita tentang negeri-negeri yang menakjubkan dari segala isinya. Pembaca seolah diajak berkelana menyusuri negeri-negeri yang ia kunjungi, kemudian memetik hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian dalam perjalanan. Ibnu bathuthah berhasil merangkai sebuah catatan perjalanan sebagai karya sejarah bermutu tinggi, yang bisa dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah sebuah bangsa dan peradaban manusia. Buku ini, sayang Anda lewatkan. -Pustaka Al-Kautsar-

Ibnu Bathuthah menyebutkan, dia masuk Damaskus pada 9 Ramadhan 726 H.
Padahal sejak bulan Sya'ban sampai Dzulqa'dah 726 H itu, Ibnu Taimiyah
dipenjara dibenteng (lihat Syarah Qashidah Ibnul Qayyim,juz 1, hlm.497). Ibnu
Abdul ...

Ibnu Qayyim berbicara tentang Tuhan

Mencintai Tuhan Mencintai Kesetaraan

Hidup ini indah hanya jika kita saling mencintai, sebagaimana Allah mencintai semesta alam. Ibarat dua sisi mata uang, keberadaan perempuan dan laki-laki tak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan membutuhkan. Melalui Al- Qur’an, Allah menuntun manusia untuk saling kenal-mengenal (ta’aruf) untuk kebaikan. Tetapi dalam keseharian kita masih melihat perempuan sering menerima perlakuan tidak adil. Kekerasan dalam rumah tangga, di jalan, di tempat-tempat umum, dan tindakan diskriminatif lainnya masih marak di mana-mana. Ini diakibatkan dari anggapan bahwa perempuan akalnya lemah, emosional, dekat dengan setan, dan lain-lain. Buku Mencintai Tuhan, Mencintai Kesetaraan: Inspirasi dari Islam dan Perempuan, berisi kumpulan tulisan yang menginspirasi kita untuk mencintai Tuhan. Mustahil kita mencintai Tuhan tanpa mencintai kesetaraan. Kesetaraan itu berarti perempuan dan laki-laki saling melengkapi dan membutuhkan. Inilah wajah Islam yang ramah terhadap perempuan, bukan hanya dalam perkataan tetapi juga dalam tindakan. Buku ini dibagi dalam tiga tema besar yang mencerahkan; • Islam Rahmat, Islam Maslahat • Semesta Islam dan Perempuan • Senandung Doa Kesetaraan

Pertama, pengarusutamaan pendidikan dan politik berbasis gender. Ya, ini
adalah modal awal seseorang mentransformasikan perspektif (mengubah cara
pandang) dan persepsinya (pendapatnya) agar terbebas dari tradisi bias gender
dan ...

Mencintai Tanpa Dicintai

Kisah ini menceritakan tentang seorang lelaki yang sangat mencintai Tuhannya. Kemudian dialihkan perhatiannya oleh seorang wanita yang mampu meluluhkan hatinya. Setelah wanita itu mendapatkan hati sang lelaki, wanita itupun tidak menghiraukannya. Perasaan lelaki itu terbawa olehnya sampai wanita itu menikah, dan sang lelaki tak mampu untuk mencari penggantinya.

Lagian tidak penting kamu tahu. Saya kan sudah lama putusnya?!” “Iya, tapikan
putus nyambung!” Sambung teman-temannya. “Iya, tapi sekarang aku udah
putusin lagi dan aku harap tidak ada sambung menyambung lagi. “Kayak lagu
aja ti!” Sahut teman-temannya. Zain, tengah bersiap-siap untuk melaksanakan
sholat berjamaah di masjid. Zain berharap Yati akan lewat di masjid sore ini.
Moment itu sebuah kesempatan untuk melihat wajah Yati yang dapat
menenangkan jiwanya.