adanya perjuangan nilai (baca: Islam) dalam kancah politik. Ini pun pada
akhirnya membentuk "golongan" Islam integralistik. Bermula dari adanya
pemahaman bahwa Islam mustahil dipisahkan dengan politik, maka kalangan Islam integralistik ini kemudian menetapkan berbagai agenda dan strategi untuk
menjadi gerakan politik sebagai prolog tegaknya ajaran Islam. Tujuan pragmatis
dari Islam integralistik ini adalah akomodasi sebesarnya kepentingan politik
kaum Muslimin.
Strategi boleh berganti, tapi dengan syarat tidak bergeser dari perjuangan
semula; menegakkan keadilan dan syariat Islam yang penuh rahmat bagi
semesta alam. Tentunya, pandangan yang terlalu 'alergi' dengan konsep politik Islam, baikyangekstrim kiri (sekularis) yang mempropagandakan tidak ada
agama dalam politik dan tidak ada politik dalam agama; maupun ekstrem kanan
(kelompok muslim revivalis) yang berpandangan bahwa politik adalah sistem
impor yang menyusup ...