Sebanyak 2079 item atau buku ditemukan

Paham Al-Maturidiyyah dalam Beraqidah

  • ISBN 10 : 9794216526
  • Judul : Paham Al-Maturidiyyah dalam Beraqidah
  • Pengarang : Muhammad bin Abdurrahman,  
  • Penerbit : Srigunting
  • Klasifikasi : 2x3.01
  • Call Number : 2x3.01 MUH p
  • Bahasa : Indonesia
  • Penaklikan : xxiii,69hlm;21cm
  • Tahun : 1998
  • Halaman : 0
  • Ketersediaan :
    2018-36446-0006
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36446-0005
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36446-0004
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36446-0003
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36446-0002
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36446-0001
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Membangun kembali pikiran Agana Dalam Islam

gerak melingkar jang tetap, akan mengakibatkan gagasan tentang ke- abadian
tak dapat diterima samasekali. Nietzsche sendiri merasakan ini, dan
menggambarkan akidahnja bukan sebagai akidah tentang ke- abadian, tetapi
lebih berupa pandangan hidtip jang menjebabkan kita sanggup mendjalani
keabadian. Dan apakah jang menjebabkan demi- Itian menurut Nietzsche ?
Jang menjebabkannja adalah harapan bahwa luatu peru.angan kombinasi pusat
-pusat-energi, jang ...

Setan Pun Ingin Kembali ke Surga

"Musa," ujar setan, "mohonkanlah ampunan kepada Allah untukku." Sejak masih kanak-kanak, kita mungkin sudah akrab dengan kisah terusirnya setan dari surga. Saat dewasa, setiap kali mendengar kata 'setan', yang terlintas di benak kita adalah segala macam keburukan. Al-Qur'an berulang kali mengingatkan kita bahwa setan adalah musuh utama manusia. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa setan pernah ingin bertobat? Setan bukanlah makhluk yang mengingkari keberadaan Sang Pencipta. Ia tahu bahwa Allah adalah pemilik sejati kehidupan ini. Ia hanya durhaka kepada-Nya, membangkang perintah-Nya untuk memberi penghormatan kepada Nabi Adam as, dan memilih jalan kesesatan. Kisah pertobatan setan adalah satu dari beberapa kisah hikmah dalam buku ini. Dari kisah tersebut, kita dapat memetik pelajaran betapa luas dan tak terbatasnya ampunan Allah SWT. Selain kisah tersebut, buku ini juga berisi kisah-kisah lain yang tak kalah menarik yang berbicara tentang nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kerendahan hati. Melalui buku ini, nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Islam akan semakin mudah kita hayati dan kemudian kita praktikkan. Seperti kita tahu, kisah atau cerita-cerita tentang keteladanan memiliki cara-cara ajaib yang dapat menggerakkan hati siapa saja untuk mengikutinya. -QultumMedia-

Setan bukanlah makhlukyang ”ll/lusa,” ujar setan, ”mohonkanlah ampunan
kepada Allah untukku.” Sejak masih kanak-kanak, kita mungkin sudah
mengingkari keberadaan Sang Pencipta. Ia tahu bahwa Allah adalah pemilik
sejati kehidupan ini. Ia hanya durhaka kepada-Nya, membangkang perintah-Nya
untuk memberi penghormatan kepada Nabi Adam as, dan memilih jalan
kesesatan. Kisah pertobatan setan adalah satu dari beberapa kisah hikmah
dalam buku ini. Dari Peneguh ...

Paradigma baru memahami hadis Nabi

refleksi pemikiran pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail

Keberagamaan dan industrialisasi

studi antropologi agama tentang pola resistensi keberagamaan komunitas Muslim di kawasan industri kota Sidoarjo : laporan penelitian individual

Filsafat hukum Islam

Mengurai Kesenyapan Bahasa Mistik: Dari Filsafat Analitik Ke Epistemologi Hudhuri

Buku ini mencoba mengkaji pandangan dua filsuf dari genre Filsafat Analitik: Ludwig Wittgenstein (1889-1951) dan Mehdi Hairi Yazdi (1923-1999), khususnya respons mereka terhadap keabsahan dan kebermaknaan bahasa mistik. Masalah pokok yang diketengahkan dalam buku ini yaitu: pertama, bagaimana posisi bahasa sebagai medium ekspresi filsafati terkait keabsahan bahasa mistik. Kedua, bagaimana system ofthought kedua filsuftersebut dalam kaitannya dengan problem keabsahan bahasa mistik. Ketiga, bagaimana implikasi dan konsekuensi pemikiran kedua filsuf tersebut dalam kancah pemikiran filsafat kontemporer, khususnya jika dikaitkan dengan fenomena New Age. Pembaca akan mendapati beberapa terra menarik seperti: aras konseptual bahasa mistik, bahasa dan pengalaman mistik, ke arah perumusan bahasa mistik, pengalaman mistik, fisika quantum, dan New Age. Dengan pemaparan tema tersebut buku ini akan sangat bermanfaat bagi para mahasiswa program S-1, S-2 maupun S-3 yang sedang mempelajari dan mendalami Filsafat Islam, Filsafat Ilmu, Filsafat Bahasa, dan Mistisisme Islam. *** Persembahan penerbit Kencana (PrenadaMedia)

Buku ini mencoba mengkaji pandangan dua filsuf dari genre Filsafat Analitik: Ludwig Wittgenstein (1889-1951) dan Mehdi Hairi Yazdi (1923-1999), khususnya respons mereka terhadap keabsahan dan kebermaknaan bahasa mistik.