Sebanyak 2050 item atau buku ditemukan

Ketika Makkah Menjadi Las Vegas: Agama, Politik & Ideologi

"""Ketika agama menjadi empty shell, kekosongannya akan segera diisi oleh hal-hal yang bersifat keduniawian dalam segala bentuknya. Agama dengan simbol-simbol tradisionalnya akan berubah menjadi sekadar """"formula sukses"""" dan Tuhan cuma di perlakukan sebagai, dalam bahasa fromm,""""a partner in business"""". Demikian, ketika kekuatan kapitalis mendistorsi konsep agama, agama terancam tinggal menjadi semacam tubuh yang kehilangan kepala dan jantung hatinya, tinggal menjadi wujud tanpa signifikansi. Agama terkooptasi; kekuatannya justru merongrong misi sucinya, bahkan boleh jadi malah menjadi pelindung agen para pendosa. Agama menjadi apa yang oleh leo yang agung dsebut sebagai a respectable cloac for sin, """"jubah mulia bagi berbagai dosa"""", kehilangan moralitas, kehilangan yang """"suci"""", """"baik"""" dan """"adil"""". Lalu, yang tertinggal hanyalah serangkaian kepercayaan, ritualisme kosong makna, atau paling banter semacem etiket. Ketaatan terhadapnya malah menjadi ironi bagi misi sucinya. Ketika Makkah Menjadi Seperti Las Vegas adalah suara keprihatinan yang mengajak kita untuk menegakkan agama sebagai rahmat bagi semesta."""

beragamaan nya. alam luar Dengan kebutuhan negeri, nyata beberapa muslim
wataknya masyarakat, khususnya Indonesia ... adalah negara dengan mayoritas
berpenduduk muslim di dunia dengan paham dan keyakinan yang moderat.

Enriching Faith

Lessons and Activities on Prayer

Includes lessons and activities to teach children traditional, spontaneous, creative, and meditative prayer.

Includes lessons and activities to teach children traditional, spontaneous, creative, and meditative prayer.

ilmu falak : teori dan aplikasi

  • ISBN 13 : 9789799392985
  • Judul : ilmu falak : teori dan aplikasi
  • Pengarang : A. Jamil,  
  • Penerbit : Amzah
  • Klasifikasi : 521.57
  • Call Number : 521.57 A. i
  • Bahasa : Indonesia
  • Penaklikan : xii,338 hlm.: 21 cm
  • Tahun : 2014
  • Halaman : 0
  • Ketersediaan :
    2018-36263-0008
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36263-0007
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36195-0006
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36195-0005
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36195-0004
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36195-0003
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36195-0002
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
    2018-36195-0001
    Tersedia di Pustaka Kubang Putih - UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

The Blood of the People

Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra

In northern Sumatra, as in Malaya, colonial rule embraced an extravagant array of sultans, rajas, datuks and uleebalangs. In Malaya the traditional Malay elite served as a barrier to evolutionary change and survived the transition to independence, but in Sumatra a wave of violence and killing wiped out the traditional elite in 1945-46. Anthony Reid's The Blood of the People, now available in a new edition, explores the circumstances of Sumatra's sharp break with the past during what has been labelled its "social revolution." The events in northern Sumatra were among the most dramatic episodes of Indonesia's national revolution, and brought about more profound changes even than in Java, from where the revolution is normally viewed. Some ethnic groups saw the revolution as a popular, peasant-supported movement that liberated them from foreign rule. Others, though, felt victimised by a radical, levelling agenda imposed by outsiders. Java, with a relatively homogeneous population, passed through the revolution without significant social change. The ethnic complexity of Sumatra, in contrast, meant that the revolution demanded and altogether new "Indonesian" identity to override the competing ethnic categories of the past.

Dutch and British archives also provide intelligence reports for the Japanese and
revolutionary periods, but they are disappointingly blind to the most vital
revolutionary developments. Few Japanese documents of substance have yet
come to light in the archives of the SelfDefence Agency in Tokyo beyond those
already published (below under Benda and Reid). For these periods one must
rely mainly on such newspaper collections as exist (often in private hands) and
on the written or ...